Mengenal Operasi Pada Penyakit Pembesaran Prostat

Oleh: dr. Akhada Maulana, SpU

SALURANKECING.COM — Bila anda terbayang penyakit pembesaran prostat jinak atau BPH (Benign Prostatic Hyperplasia), yang ada dalam pikiran anda pasti adalah pasien tersebut harus dibedah untuk mengeluarkan prostatnya. Anda tidak salah namun juga tidak benar 100 %. Saat ini, alhamdulillaah, sudah ada obat untuk mengecilkan prostat dan bisa membantu melancarkan kencing pasien. Sehingga banyak kasus pembesaran prostat jinak tidak perlu dilakukan operasi, cukup diobati. Namun, untuk kasus prostat yang sangat besar dan biarpun sudah diberikan pengobatan pasien tetap tidak bisa kencing, maka tetap harus dilakukan operasi pada pasien tersebut. Nah, sekarang kita akan bahas apa saja jenis operasi prostat dan pada kondisi bagaimana pembesaran prostat harus dilakukan operasi. Let’s check it out.

prostat-1

Pemandangan prostat dilihat dengan alat resectoscope pada operasi TUR-P

 

Penyakit BPH yang harus (mutlak) dilakukan operasi adalah pada kondisi sebagai berikut : disertai dengan batu kandung kemih; terjadi infeksi saluran kemih berulang (kambuh-kambuhan); disertai dengan kencing berdarah yang terus menerus (tidak sembuh dengan obat); pasien kembali tidak bisa kencing, walaupun diterapi dengan obat (gagal pengobatan); sisa urine yang banyak di kandung kemih (> 100 cc); dan terjadi kelainan fungsi ginjal (gagal ginjal). Bilamana terjadi kondisi seperti yang tersebut, maka mutlak pasien pembesaran prostat jinak harus dilakukan operasi.

Ada beberapa teknik operasi prostat yang sering dilakukan di Indonesia, yaitu pengangkatan prostat dengan pembedahan (prostatektomi terbuka), TUR-P (transurethral resection of prostate), dan Laser. Dalam artikel kami, akan dibahas operasi prostatektomi terbuka dan TUR-P.

Pemandangan prostat dilihat dengan alat resectoscope pada operasi TUR-P

Pemandangan prostat dilihat dengan alat resectoscope pada operasi TUR-P

Prostatektomi terbuka merupakan teknik operasi pengangkatan prostat tertua di dunia dan di Indonesia tentunya. Operasi ini dilakukan dengan cara menyayat perut bagian bawah dan kemudian melakukan pengangkatan prostat. Prostat diangkat bisa dengan melalui kandung kemih atau kapsul prostat (selubung pembungkus prostat), yang telah dibuka sebelumnya. Setelah dilakukan operasi, pasien akan dipasang selang kateter ke saluran kencingnya (uretra) yang dilengkapi dengan selang infus untuk mengalirkan cairan NaCl ke dalam kandung kemih guna membilas perdarahan yang terjadi dari bekas tempat prostat. Bila tidak dibilas dengan cairan NaCl, perdarahan yang terjadi berpotensi menimbulkan jendalan darah yang akan menghambat aliran kencing. Selain selang kateter uretra, pasien juga akan dipasang selang di sisi luka operasi yang ujung dalamnya berada di sebelah kandung kemih, yang bermuara ke kantung penampung. Selang yang kedua ini berguna untuk mengalirkan darah atau air kencing yang mungkin keluar dari luka jahitan di kandung kemih atau selubung pembungkus prostat.  Selang ini biasanya disebut sebagai selang drain. Selang infus yang mengalirkan cairan pembilas biasanya dicabut pada hari ke-2 atau ke-3 pasca operasi setelah urine sudah tidak berwarna merah lagi. Sedangkan drain akan dicabut setelah sudah tidak ada lagi darah atau cairan lain yang keluar. Kemudian yang terakhir adalah selang kateter yang dicabut, biasanya pada hari ke-7 pasca operasi. Pasien akan diijinkan pulang bila sudah tidak ada masalah, misalnya nyeri hebat, perdarahan, infeksi, atau masalah lain; biasanya hari ke-5 sampai hari ke-7 pasca operasi. Selang kateter bisa dicabut sebelum pasien diijinkan pulang ataupun setelah pasien kontrol di klinik rawat jalan.

Saat ini seiring dengan kemajuan jaman, operasi prostatektomi terbuka hanya dikerjakan pada prostat dengan volume diatas 100 cc, disertai dengan divertikel kandung kemih (lebih dari   volume kandung kemih), dan terdapat batu kandung kemih ukuran besar (> 3 cm).  Komplikasi prostatektomi terbuka meliputi infeksi, perdarahan, kebocoran luka operasi, striktur uretra (penyempitan saluran kencing), inkontinensia urine (mengompol), dan yang terburuk adalah meninggal dunia.

prostat-3

Tampak prostat sedang dikeluarkan dari kandung kemih pada operasi prostatektomi terbuka

TUR-P (transurethral resection of prostate) saat ini merupakan terapi baku emas untuk penyakit pembesaran prostat jinak. Di mayoritas pusat kesehatan urologi di Indonesia, lebih dari 90 % operasi pada kasus BPH adalah TUR-P. Di Mataram saja, operasi prostatektomi terbuka bahkan hanya dikerjakan satu kali dalam beberapa bulan. Hampir semua kasus pembesaran prostat jinak dikerjakan dengan TUR-P. Operasi TUR-P dilakukan dengan memasukkan alat endoskopi (teropong) yang dilengkapi dengan kamera ke dalam saluran kencing pasien dalam keadaan terbius spinal (separuh tubuh bawah). Alat endoskopi yang dinamakan resectoscope ini disambungkan ke alat cauter (pembakar) yang bertenaga listrik. Tenaga panas yang dihasilkan dari alat cauter inilah yang digunakan untuk memotong jaringan prostat dan menghentikan perdarahan. Alat resectoscope juga disambungkan ke tampungan air (aquadest steril) melalui selang yang berguna untuk mengalirkan air ke dalam saluran kencing untuk membuka rongga uretra dan kandung kemih serta membilas perdarahan yang terjadi akibat pemotongan prostat sehingga tidak mengganggu pandangan dokter operator. Setelah prostat dipotong menjadi bentuk yang kecil-kecil, jaringan prostat tersebut dikeluarkan dengan cara disedot. Kemudian jaringan tersebut akan diperiksakan ke laboratorium untuk emngetahui apakah ganas ataupun jinak jenis tumor prostatnya. Setelah operasi, pasien akan dipasang kateter uretra besar yang dilengkapi dengan selang irigasi untuk membilas urine.

Lama operasi TUR-P maksimal adalah satu jam. Operasi TUR-P ini diberikan waktu maksimal dikarenakan aqua steril yang dialirkan ke dalam saluran kencing dapat masuk ke dalam pembuluh darah melalui jaringan prostat. Akibatnya air aquadest steril tersebut dapat masuk ke dalam peredaran darah tubuh hingga mencapai jantung sehingga mengakibatkan darah menjadi encer, volume darah meningkat, dan beban kerja jantung bertambah berat. Sehingga dalam waktu satu jam operasi harus dihentikan, meskipun mungkin masih ada prostat yang menutupi saluran kencing. Karena itulah di beberapa pusat pelayanan urologi ditetapkan batas maksimal untuk dilakukan operasi TUR-P adalah berat prostat 100 gram. Sehingga diharapkan semua jaringan prostat yang menutup saluran kencing dapat diambil dalam waktu 1 jam, untuk menghindari terjadinya komplikasi TUR-P syndrome.

Lama perawatan pasca operasi TUR-P biasanya 2-3 hari, bila tidak ada komplikasi. Setelah itu, pasien bisa pulang dengan membawa kateter ataupun sudah dilepas kateternya dan bisa kening spontan. Komplikasi operasi TUR-P meliputi perdarahan, infeksi, TUR-P syndrome (akibat masuknya cairan aqua ke dalam darah dalam jumlah besar), dan yang terburuk meninggal dunia, walau alhamdulillaah angka kejadian pasien meninggal dunia sangat kecil (kurang dari 1 %). Sedangkan komplikasi lanjut operasi TUR-P adalah striktur (penyempitan) uretra (3-11 %), ejakulasi retrograde (70 %), inkontinensia urine (2-10 %), dan impotensi (5-10 %).

Keunggulan operasi TUR-P adalah tidak adanya luka sayatan di tubuh pasien dan insha Allah lama perawatan lebih cepat dibandingkan dengan bila dilakukan pembedahan terbuka. Selain itu, nyeri yang ditimbulkan akibat operasi juga lebih rendah dibandingkan dengan prostatektomi terbuka.

Berbagi info kebaikan dengan yang lainnya: